MEMAKNAI WAKTU MENULIS
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KASUS: Sepertinya, ide menumpuk di kepala untuk ditulis. Begitu mulai, eh menguap. Ada yang setengah jadi, membuat endingnya susah. Menulis perlu waktu tersendiri ya?
Seorang blogger dari Medan, seperti yang ditulis blogger dari Batam di atas, lebih keren malahan. Tulisnya, sibuk ini-itu. Penyakit saya, soal waktu dan kesempatan. Bapak bilang: “waktu cukup saja tidak lebih tidak kurang”. Saya sudah mengaturnya, tetap saja tidak cukup.
WAKTU DAN KESEMPATAN: Kasus seperti diutarakan di atas, duga-duga saya, dialami banyak orang, kalaulah terlalu keras dikatakan, menjadi belenggu abadi. Sibuk? Tidak punya waktu? Karena itu, tidak punya kesempatan untuk menulis. Padahal, sangat ingin menulis. Dilakukan, ya hasilnya, tidak memuaskan.
Ahai. Ini soal serius dalam memaknai waktu dan pemanfaatan waktu. Padahal, waktu itu terbentang tak bertepi dalam tiga dimensi, lalu, sekarang, dan esok. Waktu adalah juga berarti, saat yang tertentu melakukan sesuatu, dan … kesempatan, tempo, atau peluang. Kesempatan dari akar kata sempat, berarti, ada waktu, ada peluang.
Waktu, ya sudah tersedia, waktu itu cukup saja. Kesempatan lebih kepada ‘mengambil’ (bagian) waktu digunakan untuk sesuatu. Kita mau menangis sepanjang malam, tertawa-tawa cekikikan dari pagi sampai sore, waktu tetap jadi waktu. Ketika menangis atau tertawa —kayak orang gila gitu— waktu dimanfaatkan untuk itu.
Artinya, kalau digunakan untuk menulis, ya jadi tulisan. Kalau untuk bergunjing atau ghibah, ya kebudayaan bisik-bisik yang mapan. Dus, kesempatan diciptakan dari rentang waktu. Kalau diibaratkan garis liniear waktu merentang lurus yang bisa kita ‘ambil’ (dimanfaatkan untuk sesuatu) sesuai maunya kita.
Makanya, yang diperdebatkan orang bukan soal ‘ada’ waktu, tetapi memanfaatkan waktu. Karena waktu pula ada konsep prioritas, memilih yang tepat. Kalau peluang yang tersedia di waktu tidak dimanfaatkan, kita mengabaikan peluang. Itu baru soal memanfaatkan, belum hal menciptakan peluang.
Seharusnya, ketika bersekolah kita sudah fasih menulis, karena ada pelajaran bahasa yang ada bagian menulis (mengarang). Tetapi, kita dijejar tata bahasa, teori, dan aturan yang seolah-olah akan ‘dicetak’ menjadi ahli bahasa. Tidak salah. Sebaiknya demikian. Sebab, seharusnya semua orang memiliki keterampilan berbahasa layaknya ahli.
Celakanya, mempraktikkan bahasa terlupakan. Hasilnya? Ya, selepas sekolah, menulis jadi sulit. Teori melulu sih. Atau, mau contoh lebih konkret.
Pergilah ke Bali, berleha-lehalah di pantai Sanur atau Kuta. Anak-anak ingusan lancar-lancar saja tu berbahasa Inggris. Ada sarjana bisanya, I don’t know. Si Sarjana hidup-hidup belajar bahasa, Si Anak Ingusan mempratikkan hari-hari. Cakaplah dia berbahasa Inggris. Apalagi, anak-anak yang lahir di Inggris, he … he … Language is habit.
Jelaslah, kesempatan adalah bagaimana memanfaatkan waktu yang tidak akan pernah berulang. Apabila garis waktu lewat, tidak diraih (dimanfaatkan), otomatis (kesempatan) hilang. Kesempatan harus direbut di rentang waktu. Memanfaatkan kesempatan adalah kepiawaian dasar. Merebut kesempatan dan menciptakan kesempatan tingkat di atasnya. Artinya, memanfaatkan saja cela, apalagi tingkat berikutnya. Capek deh.
Dalam menulis diilustrasinya berikut. Kita kepincut memperbaiki pendidikan anak-anak slum area. Ada niat menuliskan pengalaman tersebut. Bagi yang pandai memanfaatkan, mengambil kesempatan menulis dalam setengah jam. Bagi orang lain, berbulan-bulan untuk menulis hal yang sama.
Memang ada faktor speed dalam menulis pada sebagian orang. Tetapi, lebih penting dari itu adalah, bagaimana memanfaatkan waktu. Sebenarnya latihan menulis, membiasakan menulis, menjadi penting adanya. Tapi, sudahlah. Kita mulai dari patokan, bagaimana menuliskannya.
Hanya saja, saya ingin memperbingung dulu agar lebih mantap. Pernah mimpi? Ya, pastilah. Kalau kita mimpi, dalam ukuran waktu normal manusia atas pemahaman waktu standar, mungkin satu menit saja. Tapi, durasi mimpi itu terasa panjaaaaaaaaaaaaang. Coba, kalau sudah bangun bisa menceritakannya secara detail dan memakan waktu sangat panjang.
Waktu di otak kita berbeda dimensi dan durasinya dengan waktu dunia nyata. Coba, kalau mau ke London, … ribet. Dalam dunia mimpi, wah hal selayang. Atau, coba … begitu membaca tulisan ini, pergi saja ke Washington atau Yokohama, nyampe deh. Ngak sempat mudik dengan raga, mudik saja dengan pikiran. Dalam semenit pergi-pulang. Begitu saja kog repot.
Pesan yang ingin saya sampaikan dalam konteks menulis, jangan menyia-nyiakan waktu, jangan membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Dalam Surat Al’Ashr Allah berfirman: Demi masa (1), Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian (2), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3).
Manakala kita petik intrepretasi ayat satu dan dua, luar biasa kerasnnya peringatan Allah SWT. Secara tekstual memang pada ayat tiga terpatok pada soal keimanan, amal, dan dalam berjuang demi kebenaran berbasik kesabaran. Tetapi, kembangan mantapannya merebak ke wilayah kehidupan manusia.
Intinya, jangan sampai tergelincir begabung dengan orang-orang yang merugi. Lalu, bagaimana dong mengatasinya? Sebab, kehidupan keseharian begitu sibuk, begitu padat program yang harus dilakoni?
Jawabnya, sederhana. Jangan bebani waktu, jangan bebani fisik. Santai saja. Manfaatkan lumbung potensi tak terhingga yang telah dititipkan Allah SWT bersamaan dengan ditiupkannya roh. Bukankah tugas manusia memaknai potensi berian Yang Mahapemberi? Kenapa dibiarkan terjerumus menjadi The Sleeping Giant di tubuh kita. Apa sih?
Menulis di otak? Ah, becanda aja, mana mungkin menulis di otak. Sampeyan belum membaca buku-buku saya kalau belum paham. Bagian kedua tulisan ini adalah aplikasi bagaimana memanfaatkan, merebut, dan menciptakan peluang dalam menulis. Tapi, saya punya satu teror lagi. Apa itu?
Ada penemuan Galilio Galile dalam ilmu mekanika yang saya sukai, apalagi dalam konteks menulis. Menurutnya: Kecepatan setiap benda yang jatuh, pada setiap saat jatuhnya berbading lurus dengan waktu yang berlaku sejak benda itu dilepaskan dan kecepatan jatuhnya bertambah sejalan dengan waktunya. Ringkasnya, suatu gaya mengubah gerak dan mengakibatkan percepatan.
Ke arah itulah, menulis mudah, menulis cepat, menulis dengan gembira, Sampeyan akan diceburkan. Bukankah untuk menulis hanya berkutat soal 26 huruf. Dari 26 huruf itu, sekalipun menghasilakn ribuan buku, tidak sampai separoh yang digunakan. Soal otak atik 26 huruf, apa sih susahnya?
Oh ya, kalau dipahami secara radiks dan holistik, Teori Relativis Einstein, E=MC2 pas-pas saja. Waktu, ruang, kesempatan, peluang, dan potensi yang terendam di pikiran kita tak terbatas. Kini, tuangkan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
(Bersambung, he he)