Memaknai waktu menulis 3

13 01 2008


Memaknai waktu menulis 3 

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MENURUT fisikawan, alam semesta ini berisi empat hal; materi, energi, ruang, dan waktu. Keempatnya berfungsi membentuk alam semesta. Perubahan pada materi dan energi akan membawa perubahan pada ruang dan waktu. Wah, kalau dilanjutkan nanti dibilang kuliah fisika. Jauhlah dari bidang saya.
 
Tetapi, begini. Memang tidak akan mengurai detail sampai ke atom, sekalipun apa pun dan bagaimanapun yang ada di alam semesta ini tersusun dari atom. Kalau diurai ke inti atom, bisa pula diurai ke partikel lebih kecil. Misalnya, neutron ternyata bisa dipecah menjadi proton dan elektron. Ah, sudah, yang ingin saya kemukakan, semakin kecil partikel sub atomik semakin hilang sifat kebendaannya, dan yang muncul sifat energi.
 
Materi dan energi itu bagaikan timbangan. Semakin kecil, gelombangnya semakin besar. Jika, sifat materinya menonjol, sifat energinya menjadi lemah, yang tersimpan potensi saja, begitu sebaliknya. Nah, kalau dilajutkan bisa sampai kepada quark, sring, alias quanta. Apalagi sampai vibrasi energi. Bisa ruwet. Padahal, kita kan bukan bicara fisika.
 
Dalam kaitan menulis nanti terlalu jauh. Siapa bilang? Tubuh kita kan terdiri dari materi dan energi. Karena bukan fisikawan, tidak pula genetikawan, atau neurolog, pikiran jadi terganggu, karena tidak paham. Lebih menggoda, sehabis menulis tentang waktu (kemarin), lebih tidak paham. Tetapi, kog bisa menulis. Ada apa ini? Saya mengalami banyak hal sedemikian dalam menulis. Saya (mencoba) menelusurinya.
 
Suatu kali diganggu Kazuo Muraka, penulis The Divine Message of The DNA, ditambahi Jhon C. Avis dengan The Genetic Gods. Saya terlusuri buku-buku yang ada bau-bau fisika, genetika, dan neurologi. Membuka kembali buku Relegion and the Science, Keith Wilkes yang 25 tahun lalu menganggu pikiran.  
 
Semakin asyik. Allah Mahakuasa. Secara genetika, kita bisa menelusuri ke awal asal. Bermula dari sel telur yang telah dibuahi, kemudian terbelah menjadi dua, empat, delapan, dan selanjutnya. Begitu lahir, memiliki sekitar tiga miliar sel.
 
Pembelahan itu tetap terjadi. Struktur sel dapat diterangkan, ditengah-tengah setiap sel terdapat nukleus yang dilapisi membran. Di dalam nukleus terletak gen. Nukles sel mengandung deoxyribonucleid acid alias DNA. DNA terdiri dari dua untaian berbentuk spiral, yang menjadi permukaan bagi molekul-molekel, yang dinamakan ‘kode genetik’, A. T. C. dan G (zat kimia adenim, timin, sitosin (cytosine), dan guanin.
 
Kode genetik tersebut dipercayai mengandung informasi untuk membentuk kehidupan. Ringkasnya begini. Informasi dalam setiap sel tubuh kita (60 triliun) yang akan menentukan kehidupan kita. Katanya sih, kita tinggal tekan tombol on atau off.  Sebab, semuanya sudah tertulis. 
 
Ajaibnya, semua itu sudah diatur Allah SWT. Gen sebagai blueprint kehidupan telah lengkap. Supaya jangan terlalu rumit, tugas kita sekarang mengaktif atau menonaktifkan gen-gen.
 
Kalau yang diaktifkan hal-hal positif, maka diri kita akan berkembang postif. Kalau misalnya, berpikir negatif, ya kehidupan akan dibungkusnya. Masuk akal, seorang penyayang, mengaktifkan gen sayang, akan semakin matang sifat sayangnya. Bukankah ibu-ibu yang hobi memarahi anaknya semakin hari semakin menjadi-jadi?
 
Jagan coba —ini ilustrasi— cemburu pada suami ya. Kalau diaktifkan, miliaran gen akan kena sebaran aktif, dan membelah diri, wui … ujung-ujungnya kepercayaan hilang, bisa cerai. Ih, ngeri.
 
Kalau bertemu Kazuo Murakami, akan saya katakan, bisa jadi, sekali lagi bisa jadi, kode genetik itu adalah Asmaul Husna. Saya telah menulis  secara ringan dalam buku Nyaman Memahami ESQ.
 
Dalam pada itu, ketika membaca tentang otak, didapat fakta, otak seberat 0,5 kg itu ternyata berisi setrilun sel neuron. Setiap sel mampu berkoneksi 20 ribu manakala diaktifkan. E … jangan-jangan kolaborasi antara gen yang saling mengaktifkan itu yang menjadikan kerja fikir cepat. Semakin dipakai sel-sel di tubuh kita bukan berkurang, justru bertambah. Kalau tidak diaktifkan akan mati sendiri.
 
Kalau sel-sel mau diperbaharui, berkembang, dan dimaksimalkan manfaatnya, aktifkan. Pada uraian (gawur?) tersebut sampaialh kita kepada, menulis berarti menfungsikan diri kita. Bisa jadi. Namun, sekali lagi, pemikiran sangat prematur. Caranya?
 
Membaca dan menulis. Faktanya, semakin banyak membaca, apalagi menuliskan bacaan dalam hal lebih terbarui, semakin memudahkan. Kalau sudah demikian, kita sampai pada refleks. Lebih tinggi dari sekadar berpikir.

Pada tataran ini kita bertemu pada konsep ruang dan waktu. Kita akab lebih nyaman memaknai waktu, penggunaan waktu dan turunan seperti memanfaatkan, merebut, menciptakan kesempatan. Kalau sudah demikian pemahaman menulis mudah tentu akan lebih nyaman dan menyamankan.
 
Pada hantaran terdahalu telah disinggung tentang materi dan energi dalam keberadaannya saling terkait. Ruang memiliki fungsi wadah, waktu mengikat usia, materi sebagai pengisi, dan energi sebagai penggerak. Lalu, kaitannya dengan menulis?
 
Ruang dan waktu bisa berubah dikarena gerakan. Jangan meilihat ruang dan waktu sebagai besar mutlak. Nanti tidak sealur dengan relatifis. Kalau sudah demikian, alasan ‘kurang’ waktu dalam menulis akan hilang ke jagat raya tak bertepi.
 
Misalnya, kita minta saja materi (otak) menggerakkan energinya memanggil, menganalisis, mengkonstruksikan sesautu dalam kecepatan dimana waktu bukan jadi ukuran lagi. Saking sangat singkatnya, tidak memerlukan berpikir.
 
Coba pikir, ketika suatu benda mendekati mata, kelopak mata otomatis tertutup melindungi bosa mata. Apakah Sampeyan pernah memikirkan kosakata Bapak ketika mengucapkannya? Begitu melihat Bapak, E … Bapak. Langsung lakukan.
 
Menulis pada kadar tertentu dapat seperti itu, reflektif. Saya jadi ingat reflective thinking dalam buku Jerome S. Bruner, Process of Education. Kini, agak paham, kenapa bisa menulis cepat tanpa (terlalu) berpikir. Ketika dipikirkan justru melambat. Aneh?
 
Pada tulisan bagian ini, ternyata tidak cukup tempat menulis tentang ‘melipat’ waktu dalam menulis. Saya betul-betul ingin mengempur dan memberikan wacana, (kekurangan) waktu bukanlah alasan untuk menulis. Padahal, saya sudah sediakan wacana khusus berbasis perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulullah


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar