Memaknai waktu menulis
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
TIDAK ragu lagi, kesempatan dan peluang harus dimanfaatkan. Kita tentu mempunyai pekerjaan masing-masing. Bisa jadi seorang guru, mahasiswa, ibu rumah tangga, sampai pebisnis. Sekalipun bukan penulis profesional, berkeinginan menulis. Tetapi, gara-gara sibuk (alasan saja tu), mengkabinghitamkan waktu. Saya mau, tapi tidak punya waktu.
Tentu saja kalau tidak tersalurkan akan menjadi beban psikologis. Apalagi kalau begitu kuat, akan memantik emosi. Lebih celaka, kalau sampai tugas pokok terabai. Lebih, lebih celaka, tugas pokok terabai, menulis tidak jadi-jadi, makin ruwet di pikiran. Padahal, menulis selayaknya dipahami bersendagurau, selingan, atau bersenang-senang. Menulis adalah proses katarsis, pembersihan pikiran dan jiwa.
Dalam kerangka demikian, satu-satunya penawar, menggunakan waktu, kesempatan, peluang untuk menulis, dimana dan kapan saja. Karena itu, saya membagi dua kategori menulis, menulis di otak dan menuliskan apa yang sudah terpola di otak memakai jasa komputer.
Bayangkan mudahnya menulis. Tarohlah ketika berlibur, menfreskan fikiran. Atau, menjelang tidur, operasikan otak bentuklah konstruk di pikiran. Bagi yang terbiasa, sekali membuat pola mungkin jadi. Bagi pemula, mula-mula agak susah, tetapi lama-lama akan terbiasa. Menulislah di otak sampai jadi sejadinya. Setelah itu, ketika ada waktu, ada peluang, salin ke komputer.
Sering sudah saya tulis, menulis adalah proses penuangan apa yang kita pikirkan atau apa yang ada di pikiran. Jangan dibalik, memikirakan apa yang akan ditulis. Kalau yang terakhir, bercerek-cerek kopi habis, bisa-bisa hasilnya sealinea saja. Apalagi kalau berbagai kendala bergayut, capek deh.
Banyak orang terlalu sombong, sembari menulis di komputer, menulis di otak. Lebih sok, pada keadaan demikian sekaligus mencari bahan. Bahan-bahan berserakan di meja kerja. Duh, sombongnya makhluk-makhluk tak tau diri tersebut. Prosesaor Core 2 Duo saja baru ditemukan.
Akibatnya, mandeg. Ya, iyalah. Segala hal bertumpuk yang membuat otak hang. Bodohnya, terus dilakukan dan dilakukan. Dan, yang dijadikan korban tidak bersalah, waktu dan kesempatan.
Sekarang begini saja. Kalau lagi rehat makan siang, coba perhatikan kebiasaan teman-teman. Pasti ada yang menarik. Perhatikan beberapa kali. Kalau perlu adakan survey kecil-kecilan, yah bertanya sambil lalu. Insya Allah, akan terbangun ide menulis tentang kebiasaan makan siang, lengkap dengan manfaat dan mudharatnya.
Kalau sudah matang di dataran otak, ketika rehat sore, atau menjelang tidur, ‘salin’ apa yang telah ditulis di otak pada pengertian menulis konvensional, melalui tuts komputer. Hanya menyalin, apa sih susahnya? Apalagi kalau ketika bersekolah dulu rajin mencontek. Praktikkan kebiasaan durjana tersebut. Nah, tersalur deh bakat lama. he … he …
Ya, tetapi kan tidak mudah? Jelas saja. Sekalipun demikian, kalau dilakukan terus-menerus, muaranya kebiasaan yang berbuah refleks. Saya menulis (di otak) lebih sering ketika nyetir atau macet. Tidak terhitung ketika orang memamerkan kehebatan berbica di ruang seminar. Begitu nyampai di rumah, istirahat sambil menunggu giliran mandi, tulis. Setelah cukup bilangan, menjadi buku. Si Pehebat bicara? Tahu sendirilah.
Dengan kata lain kita bukan lagi berbicara tentang memanfaatkan waktu, beranjak ‘merebut’ kesempatan. Peluang sela-sela waktu dimanfaatkan, semisal sembari menyetir atau menanak nasi. Dalam merebut kesempatan (waktu) kita akan lebih paham makna waktu, lama-lama akan berpikir, dari pada ngerumpi, dari pada berbuat ghibah, lebih baik menulis. Kira-kira aja begitu, bo.
Semakin lama, memanfaatkan dan merebut peluang, akan menjadi hal biasa, automaticly. Melaju ke langkah ketiga, menciptakan peluang. Misalkan, akan berwisata ke Honolulu. Sebelum berangkat, baca apa saja tentang Hawaii, jangan tarian Aloha saja. Akan lebih bagus, memori sudah tersisi informasi, dan bahkan bisa menjadi bahan cerita. Seolah-olah Sampeyan ‘pakar’ Hawaii juga bisa.
Nah, begitu sampai di Hawaii, yah segala sesuatu lebih mudah. Menuliskannya, uhuii, tentu merupkan pekerjaan sepele. Kita bisa bersendagurau menikmati wisata dengan rombongan, namun begitu istirahat di hotel, menuliskannya menjadi sangat mudah. Lain halnya, seperti guru atau dosen, puluhan tahun mengajar, menuliskan apa yang diomongkannya di kelas saja tidak mampu, kacie deh lo. Apalagi, kalau berkali-kali, atau bermukim di Hawaii, kalau tidak mampu menuliskannya, keterlaluan memang.
Pada pemahaman demikian, tingal bagaimana mensiasati apa yang akan ditulis. Kalau bahan informasi cukup di rumah pikiran, berbagai ide akan muncul tidak terkendali. Menurut seorang bloger, berlompatan. Masih ingat tragedi Mina? Saking banyaknya jamaah berebut masuk-ke luar terowongan, banyak yang terinjak-injak, korban berjatuhan. Innalillahi wa Innalilaihi Rajiun.
Kalau semua ide dibiarkan mendapatkan tempat untuk ditulis, ya sama saja dengan membunuh kerja otak. Mandeg, involusi, dan … tidak akan pernah menjadi tulisan. Dengan kata lain, merusak barang paling berarga di tubuh sendiri. Bisa diduga, pola pikir akan semakin ruwet. Dalam Teori Berak dalam menulis, kalau ampas makanan tidak dikeluarkan, perut bisa meledak. Gunung berapi saja punya sistem pengeluaran sedikit demi sedikit. Kalau tidak? Kalau langsung bruarrrr, ya seperti Etna dan Krakatau.
Pemahamanan lanjutnya, sistem kerja otak perlu dibangun, kerja otak harus dimenej. Kalau boleh mengeluh, hal tersebut kurang diperhatikan karena memang sistem pendidikan kita rada-rada jorok. Bayangkan, kita belajar dengan memanfaatkan, berkehidupan mengandalkan otak, e … apa itu otak, sistem kerjanya, bagaimana menquantumkan, sampai merawat, tidak diajarkan secara proporsional. Memakai Ok, memahami tidak perlu.
Tidak kalah penting dari semua itu adalah, teknik bagaimana ‘mengembangkan’ waktu yang sedikit —maklum kita orang sibuk, tidak punya cukup waktu he … he … akan dibahas berikut.
Karena ini tidak kalah serius, akan disajikan dalam komparasi intrepretasi dengan Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW. Pada akhir tulisan, dipatok pada pemahaman hakekatis ‘Demi Waktu’ dan pesan-pesan Isra’ Mi’raj dalam memaknai waktu, menciptakan peluang bagi kenyamanan menulis.
Hanya saja, mohon dibantu. Sebab, akan menyerempet perihal pemahaman nateri, energi, ruang, dan waktu. Isra’ Mi’raj tidak bisa lagi dipahami sebagai perjalanan ‘tiga serangkai’, Jibril, Buraq, dan Raslulullah. Apalgi Si Buraq berkepala gadis cantik berbadan kuda dan bersayap.
Implikasinya, seorang petambak ikan terpaksa menulis tentang photon, kuantum-kuantum penyusun cahaya. Pada tautannya, mudah dipahami Rasulullah ke Baitul Maqdis untuk terus ke Sidratul Muhtaha, dan kembali ke Bumi dalam sekejab. Kita bisa ke Taskhent, Cape Town, Wellington, Caracas atau ke surga sekalian. Tersedia waktu yang teramat panjang di otak. Menulis? Hal cilik mentik, Mas.
Bagaimana menurut Sampeyan?